Orang Muslim meyakini bahwa kebahagiaannya di dunia dan akhirat sangat ditentukan oleh sejauh mana pembinaan terhadap dirinya, perbaikan, dan penyucian dirinya. Selain itu, ia meyakini bahwa kecelakaan dirinya sangat ditentukan oleh sejauh mana kerusakan dirinya, pengotorannya, dan kebrengsekannya. Itu semua karena dalil-dalil berikut,
Firman Allah Ta‘ala, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menjiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10).
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum, demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka), demikianlah Kami memberi balasan kepada orang orang yang zhalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (Al-A’raaf: 40-42).
Minggu, 12 Juni 2011
Bagaimana Hukumnya mengucapkan Niat????
Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat. Sesungguhnya setiap orang itu akan mendapat sesuatu berdasarkan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang berhijrah untuk mendapatkan dunia dia akan mendapatkannya atau karena seorang perempuan yang ingin dikawininya maka hijrahnya itu mengikut apa yang diniatkannya." (Muttafaq 'Alaihi)
Niat itu tempatnya di dalam hati dan tidak perlu diucapkan. Jika Anda bangun dan berwudhu, maka itulah niat Anda dan tidak mungkin seorang yang berakal dan tidak terpaksa melakukan sesuatu, lalu dia melakukannya tanpa disertai dengan niat. Maka dari itu, sebagian ahlul ilmi berkata, "Seandainya Allah membebani kita dengan amal yang tanpa niat, tentu ada beban yang tidak kuasa kita melaksanakannya."
Tidak ada riwayat dari sahabat-sahabat Nabi yang menjelaskan bahwa mereka melafalkan niat. Adapun jika ada di antara mereka yang melafalkan niat, jika Anda mendengarnya, tentu karena mereka tidak mengetahuinya atau karena bertaklid kepada sebagian ulama yang berpendapat bahwa sebaiknya niat itu dilafalkan agar terjadi kesesuaian antara hati dan lisan. Tetapi kami katakan bahwa pendapat mereka itu tidak benar. Seandainya melafalkan niat ini perkara yang disyariatkan tentu dijelaskan Rasulullah kepada umatnya, baik dengan sabda maupun perbuatannya.
Sumber: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 32/http://alislamu.com
Jumat, 10 Juni 2011
Syahadah Cinta,......
Kamis, 09 Juni 2011
Membersihkan Qalbu?? Mantap dah.....
Manusia sering kali melakukan sesuatu atas dasar hawa nafsunya yang mengakibatkan perbuatan tersebut berdampak negative ditengah-tengah masyarakat. Untuk menghindari penyesalan diakhir perbuatan yang akan dilakukan, maka seyogyanya bertanyalah pada hati kecil, baik dan buruknya perbuatan tersebut. Oleh karena itu setiap manusia dituntut untuk memahami hatinya atau bahasa lain adalah "Qolbu".
Selasa, 25 Januari 2011
Sebelum baca,, senyum dulu dong!!!!
Senyuum..... mengapaa???
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama, bagaimana kalau kita menyebut dengan 5 S, yaituu....
SENYUM, SALAM, SAPA, SOPAN DAN SANTUN
Mengapa kita berat tersenyum bahkan dengan orang yang terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum yang tulus. Mengapa kita begitu enggan tersenyum? Kepada orang tua guru dan orang-orang yg berada di sekitar kita?
Senyum memang adalah hal yang kecil dan mungkin saja tidak begitu berarti bagi kita... Tetapi, kita juga harus memperhatikan kondisi dan orang yang ada di sekitar. Lagian, tidak ada ruginya sobat kalo kita senantiasa menghiasi senyum manis pada wajah masing-masing. Makanya, orang-orang lebih senang dan akrab dengan orang yang "ahli senyum", tapi bukan kategori "orang gila". Perbanyaklah hiasan senyuman indahmu sobat dalam keadaan apapun, dengan demikian anda akan menjadi pribadi yang hebat dan bisa membagikan kebahagian buat orang lain.......
TERIMA KASIH SANG SENYUM..........
ooiiiaaa....ustad Aaa Gym pernah mengatakan,,,
- Orang yang murah senyum itu pasti buat yang lain senangg...
- Biar lebih cakepp.. :D
- Lebih gampang nyari temenn,,,, coba liat yang mukanya cemberut teruss.. adakah yang betah dengannya??? (sok romantis......)
- Insya Allah dapat pahalaa....
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama, bagaimana kalau kita menyebut dengan 5 S, yaituu....
SENYUM, SALAM, SAPA, SOPAN DAN SANTUN
Mengapa kita berat tersenyum bahkan dengan orang yang terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum yang tulus. Mengapa kita begitu enggan tersenyum? Kepada orang tua guru dan orang-orang yg berada di sekitar kita?
Senyum memang adalah hal yang kecil dan mungkin saja tidak begitu berarti bagi kita... Tetapi, kita juga harus memperhatikan kondisi dan orang yang ada di sekitar. Lagian, tidak ada ruginya sobat kalo kita senantiasa menghiasi senyum manis pada wajah masing-masing. Makanya, orang-orang lebih senang dan akrab dengan orang yang "ahli senyum", tapi bukan kategori "orang gila". Perbanyaklah hiasan senyuman indahmu sobat dalam keadaan apapun, dengan demikian anda akan menjadi pribadi yang hebat dan bisa membagikan kebahagian buat orang lain.......
TERIMA KASIH SANG SENYUM..........
Langganan:
Postingan (Atom)
